Loading
Logo
Beranda Tentang

Rupiah Diprediksi Menguat, Apa Artinya bagi Bisnis Surabaya?

Finansial
12 Sep 2026
44 dilihat
Rupiah Diprediksi Menguat, Apa Artinya bagi Bisnis Surabaya?

Kurs rupiah bukan hanya angka yang muncul di layar perbankan atau berita ekonomi. Bagi pelaku usaha Surabaya, pergerakan rupiah bisa ikut menentukan biaya bahan baku, harga barang impor, hingga nilai transaksi ketika produk lokal dikirim ke pasar luar negeri.

Kabar terbaru dari Bank Indonesia memberi angin positif. Setelah resmi dilantik sebagai Gubernur Bank Indonesia periode 2026–2031, Destry Damayanti menyampaikan optimisme bahwa nilai tukar Rupiah pada 2027 dapat bergerak menguat di kisaran Rp17.300–Rp17.800 per dolar AS. Proyeksi tersebut ditopang antara lain oleh kondisi ekonomi global dan koordinasi kebijakan fiskal-moneter.

Lalu, apa dampaknya bagi Surabaya yang ekonominya sangat bergantung pada perdagangan dan industri?

Surabaya Punya Banyak Alasan untuk Memperhatikan Kurs

Perekonomian Surabaya tumbuh 5,87% pada 2025 dengan nilai PDRB atas dasar harga berlaku mencapai Rp830,54 triliun. Dua sektor yang menjadi penyumbang terbesar adalah perdagangan besar dan eceran serta industri pengolahan.

Kondisi tersebut membuat perubahan nilai tukar menjadi cukup relevan bagi dunia usaha di Kota Pahlawan.

Ketika rupiah melemah, perusahaan yang membutuhkan bahan baku, mesin, komponen, atau barang dari luar negeri harus mengeluarkan rupiah lebih banyak untuk mendapatkan jumlah dolar yang sama.

Sebaliknya, jika rupiah menguat, biaya pembelian barang yang dibayar menggunakan dolar dapat menjadi lebih ringan, dengan catatan harga dan kondisi pasar lainnya tidak berubah.

Sederhananya, kurs bisa ikut menentukan berapa besar biaya yang harus dikeluarkan perusahaan untuk menjalankan bisnisnya.

Importir Surabaya Bisa Mendapat Ruang Bernapas

Salah satu pihak yang berpotensi merasakan manfaat penguatan rupiah adalah bisnis yang memiliki kebutuhan impor.

Misalnya, sebuah perusahaan Surabaya membeli bahan baku dari luar negeri senilai US$100.000. Ketika kurs berada di Rp18.000 per dolar, perusahaan membutuhkan sekitar Rp1,8 miliar.

Jika rupiah berada di Rp17.500 per dolar, kebutuhan rupiahnya menjadi sekitar Rp1,75 miliar.

Secara sederhana, terdapat selisih Rp50 juta untuk nilai transaksi yang sama.

Tentu, kondisi sebenarnya tidak sesederhana itu karena perusahaan juga menghadapi biaya pengiriman, pajak, harga komoditas, serta perubahan kurs selama transaksi. Namun, contoh tersebut menunjukkan mengapa perusahaan yang memiliki kewajiban dalam dolar perlu memperhatikan arah pergerakan rupiah.

Bagi bisnis Surabaya, ruang penghematan tersebut bisa digunakan untuk menjaga margin, menekan biaya produksi, atau dialihkan menjadi modal kerja.

Tapi Eksportir Jangan Langsung Senang

Penguatan rupiah tidak otomatis menjadi kabar baik untuk semua bisnis.

Perusahaan yang memperoleh pendapatan dalam dolar justru perlu melihat sisi lainnya. Ketika hasil ekspor dikonversikan ke rupiah, nilai rupiah yang diterima dapat menjadi lebih kecil apabila kurs rupiah menguat.

Hal ini relevan bagi Surabaya yang juga memiliki aktivitas ekspor. Pada April 2026, ekspor produk Industri Kecil Menengah (IKM) Surabaya mencapai US$2,73 juta, melampaui target awal sebesar US$1 juta. Produk tersebut dikirim ke sejumlah negara, termasuk Pakistan, Oman, Amerika Serikat, Hong Kong, Singapura, dan Brunei Darussalam.

Artinya, bagi eksportir Surabaya, penguatan rupiah perlu diimbangi dengan strategi bisnis yang tepat.

Jangan sampai peningkatan penjualan ke luar negeri terlihat besar dalam dolar, tetapi margin ketika dikonversikan ke rupiah justru tertekan.

Jawa Timur Juga Menghadapi Dinamika Perdagangan

Gambaran perdagangan Jawa Timur menunjukkan bahwa aktivitas ekspor-impor memang perlu diperhatikan.

BPS mencatat sepanjang Januari–Juli 2026, nilai ekspor Jawa Timur mencapai US$16,08 miliar, turun 5,33% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, nilai impor mencapai US$19,52 miliar, meningkat 16,56%. Neraca perdagangan Jawa Timur pada periode tersebut tercatat defisit US$3,44 miliar.

Angka tersebut menunjukkan bahwa perusahaan di wilayah Jawa Timur menghadapi dinamika perdagangan yang cukup besar.

Bagi pelaku usaha Surabaya, kondisi rupiah tidak bisa dilihat sendirian. Harga bahan baku global, permintaan dari negara tujuan ekspor, biaya logistik, hingga kondisi ekonomi mitra dagang juga ikut menentukan apakah bisnis benar-benar mendapatkan keuntungan dari perubahan kurs.

Penguatan Rupiah Bukan Alasan untuk Mengubah Harga Sembarangan

Ada satu kesalahan yang perlu dihindari pelaku usaha: menganggap rupiah menguat berarti seluruh harga otomatis harus turun.

Padahal, biaya bisnis terdiri dari banyak komponen.

Harga barang impor memang berpotensi lebih murah secara rupiah, tetapi perusahaan mungkin masih menghadapi biaya logistik, pajak, tenaga kerja, sewa, energi, serta biaya operasional lainnya.

Karena itu, penguatan rupiah sebaiknya menjadi kesempatan untuk mengevaluasi struktur biaya, bukan sekadar alasan untuk menurunkan harga jual.

Pelaku usaha dapat mulai melihat kembali:

  • berapa besar biaya yang bergantung pada dolar;
  • apakah perusahaan memiliki utang atau kewajiban dalam valuta asing;
  • berapa margin yang berasal dari transaksi ekspor;
  • seberapa sensitif harga produk terhadap perubahan kurs;
  • dan apakah perusahaan membutuhkan strategi lindung nilai atau hedging.

Dengan begitu, perusahaan tidak hanya bereaksi ketika kurs berubah, tetapi sudah memiliki skenario untuk menghadapi berbagai kemungkinan.

Peluang bagi Bisnis Surabaya untuk Memperkuat Daya Saing

Bank Indonesia sendiri terus menggunakan berbagai instrumen untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan memperkuat ketahanan eksternal. Kebijakan tersebut menjadi semakin penting karena kondisi global masih dapat memengaruhi arus modal dan nilai tukar rupiah.

Bagi dunia usaha Surabaya, stabilitas kurs memberikan sesuatu yang sangat penting: kepastian dalam menyusun perencanaan keuangan.

Perusahaan lebih mudah memperkirakan biaya impor, menentukan harga, menyusun anggaran, dan menghitung potensi keuntungan ketika perubahan kurs tidak terlalu ekstrem.

Namun, bisnis tetap perlu berhati-hati. Proyeksi Rp17.300–Rp17.800 bukan berarti kurs akan selalu berada di angka tersebut setiap hari sepanjang 2027. Nilai tukar tetap dapat bergerak mengikuti kondisi ekonomi dan pasar global.

Karena itu, perusahaan sebaiknya tidak membuat keputusan hanya berdasarkan satu angka proyeksi.

Jangan Cuma Menunggu Rupiah Menguat

Bagi bisnis Surabaya, proyeksi penguatan rupiah dapat menjadi momentum untuk melakukan evaluasi.

Importir bisa menghitung kembali struktur biaya dan kebutuhan valuta asing. Eksportir dapat mengevaluasi margin serta strategi penerimaan dolar. Sementara bisnis yang tidak melakukan transaksi internasional pun tetap perlu memperhatikan kurs karena harga sejumlah bahan baku dan komoditas dapat dipengaruhi kondisi global.

Pada akhirnya, bisnis yang paling siap bukan yang mampu menebak kurs dengan tepat, tetapi yang mampu bertahan ketika prediksi ternyata meleset.

Proyeksi rupiah menguat pada 2027 bisa menjadi kabar baik bagi dunia usaha Surabaya, terutama bagi bisnis yang memiliki kebutuhan impor dan transaksi berbasis dolar. Namun, peluang tersebut tetap perlu diikuti dengan pengelolaan keuangan yang disiplin.

Mulai dari mencatat eksposur valuta asing, menghitung dampaknya terhadap biaya dan margin, hingga menyiapkan skenario ketika kurs bergerak berlawanan.

Sebab bagi bisnis, kurs bukan sekadar angka di layar—ia bisa ikut menentukan berapa besar biaya, pendapatan, dan keuntungan yang akhirnya masuk ke laporan keuangan.

Ceritra Bot
Online