Kemacetan bukan hanya disebabkan oleh banyaknya kendaraan yang berada di jalan. Permasalahan tersebut juga berkaitan dengan bagaimana sebuah kota memahami pola perjalanan masyarakat, mengatur infrastruktur, serta mengambil keputusan dengan cepat dan tepat.
Di era digital, kota tidak lagi hanya mengandalkan pengamatan manual. Teknologi memungkinkan sebuah wilayah untuk memahami kondisi perkotaan melalui data yang dikumpulkan secara real time. Salah satu teknologi yang memiliki peran besar dalam perubahan tersebut adalah Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan.
AI memungkinkan sistem komputer untuk mempelajari pola, menganalisis data dalam jumlah besar, serta memberikan prediksi berdasarkan informasi yang tersedia. Dalam bidang transportasi, teknologi ini menjadi salah satu fondasi utama dalam menciptakan sistem mobilitas yang lebih cerdas, efisien, dan responsif.
Salah satu kota yang mulai bergerak menuju konsep tersebut adalah Surabaya melalui pengembangan Surabaya Intelligent Transport System (SITS) sebagai bagian dari transformasi menuju smart city.
Pemerintah Kota Surabaya terus memperkuat transformasi digital melalui pengembangan SITS dan berbagai layanan publik berbasis teknologi. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya menjadikan Surabaya sebagai smart city yang mampu memberikan pelayanan lebih cepat, aman, nyaman, dan terintegrasi bagi masyarakat.
Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, menyampaikan bahwa transformasi digital dilakukan untuk menjawab kebutuhan masyarakat perkotaan yang terus berkembang.
“Kalau dulu Surabaya dikenal sebagai Kota Pahlawan, hari ini Surabaya harus mampu menjadi smart city yang memberikan kenyamanan dan kemudahan bagi warganya,” ujar Eri Cahyadi.
Salah satu inovasi utama dalam sistem transportasi pintar Surabaya adalah penerapan Surabaya Intelligent Transport System (SITS). Sistem ini memungkinkan pemerintah melakukan pemantauan kondisi lalu lintas secara real time melalui lebih dari 1.000 titik CCTV yang tersebar di berbagai ruas jalan.
Melalui teknologi tersebut, kondisi lalu lintas dapat dipantau secara lebih cepat, mulai dari kepadatan kendaraan hingga kejadian tertentu di jalan. Data yang dikumpulkan kemudian dapat menjadi dasar dalam mengambil keputusan untuk mengatur mobilitas kota.
Meskipun saat ini SITS masih berfokus pada pemantauan dan pengelolaan lalu lintas, teknologi seperti ini memiliki potensi besar untuk dikembangkan lebih jauh dengan dukungan AI. Data yang dikumpulkan dapat dianalisis untuk menemukan pola perjalanan masyarakat, memprediksi kemacetan, hingga membantu membuat sistem transportasi yang lebih adaptif.

Kemacetan sering terjadi karena perubahan kondisi jalan berlangsung sangat cepat. Sebuah ruas jalan yang sebelumnya lancar dapat mengalami kepadatan hanya dalam beberapa menit akibat peningkatan volume kendaraan atau gangguan tertentu.
Di sinilah AI dapat memberikan solusi.
Dengan memanfaatkan kamera, sensor, data transportasi, dan informasi digital lainnya, AI mampu membantu sistem mengenali berbagai kondisi seperti:
Berbeda dengan sistem konvensional yang hanya mencatat kondisi saat ini, AI mampu melakukan analisis prediktif. Artinya, sistem tidak hanya mengetahui apa yang sedang terjadi, tetapi juga memperkirakan apa yang mungkin terjadi beberapa waktu ke depan.
Sebagai contoh, jika sistem mendeteksi adanya peningkatan kendaraan pada suatu persimpangan setiap sore, AI dapat memberikan rekomendasi pengaturan lalu lintas agar kepadatan dapat dikurangi sebelum terjadi kemacetan besar.
Selama ini, sebagian besar lampu lalu lintas bekerja berdasarkan pengaturan waktu yang sudah ditentukan sebelumnya. Sistem tersebut memiliki keterbatasan karena tidak selalu menyesuaikan kondisi kendaraan yang berubah setiap saat.
Dengan bantuan AI, konsep tersebut dapat berkembang menjadi adaptive traffic management system atau sistem lalu lintas adaptif.
Sistem ini memungkinkan lampu lalu lintas menyesuaikan durasi berdasarkan kondisi nyata di lapangan. Ketika sebuah jalur mengalami peningkatan kepadatan, sistem dapat memberikan waktu lebih panjang agar arus kendaraan dapat bergerak lebih optimal.
Teknologi semacam ini telah menjadi bagian dari pengembangan Intelligent Transport System (ITS) di berbagai kota dunia.
Bagi Surabaya, keberadaan SITS menjadi fondasi penting untuk menuju tahap berikutnya, yaitu pengelolaan transportasi yang semakin berbasis AI, otomatis, dan mampu mengambil keputusan berdasarkan data.
Konsep smart transportation bukan hanya bertujuan mengurangi kemacetan, tetapi juga meningkatkan pengalaman masyarakat dalam melakukan perjalanan.
Karena itu, Pemkot Surabaya juga memperkuat integrasi transportasi publik melalui berbagai inovasi.
Salah satunya adalah optimalisasi Terminal Intermoda Joyoboyo (TIJ) sebagai pusat mobilitas terpadu. Terminal tersebut dirancang untuk menghubungkan kendaraan pribadi dengan transportasi umum sehingga masyarakat dapat berpindah moda transportasi dengan lebih mudah.
Dari TIJ, masyarakat dapat mengakses berbagai moda transportasi, termasuk konektivitas menuju kawasan wisata seperti Kebun Binatang Surabaya (KBS). Sistem parkir juga dipusatkan untuk mengurangi kepadatan kendaraan di kawasan tersebut.
Selain menjadi pusat transportasi, kawasan TIJ juga dilengkapi taman lalu lintas sebagai ruang edukasi interaktif bagi masyarakat, khususnya anak-anak.
Integrasi transportasi tersebut semakin diperkuat melalui layanan seperti Suroboyo Bus, feeder Wira-Wiri, pembayaran non-tunai, serta aplikasi digital Gobis yang membantu masyarakat mendapatkan informasi transportasi secara real time.
Hasilnya mulai terlihat dari peningkatan jumlah pengguna transportasi umum. Berdasarkan data Dinas Perhubungan Kota Surabaya, jumlah penumpang transportasi umum meningkat dari sekitar 1,9 juta penumpang pada 2023, menjadi 3,5 juta penumpang pada 2024, dan mencapai 7 juta penumpang pada 2025.
Peningkatan tersebut menunjukkan bahwa teknologi dan kenyamanan menjadi faktor penting dalam mendorong masyarakat beralih dari kendaraan pribadi menuju transportasi publik.
Walaupun AI menawarkan banyak peluang, penerapannya tetap memiliki berbagai tantangan.
Salah satu tantangan terbesar adalah pengelolaan data. Sistem transportasi pintar membutuhkan data dalam jumlah besar agar dapat bekerja secara optimal. Oleh karena itu, keamanan informasi dan perlindungan privasi masyarakat harus menjadi perhatian utama.
Selain itu, AI tetap membutuhkan manusia sebagai pengawas dan pengambil keputusan. Teknologi dapat memberikan prediksi dan rekomendasi, tetapi kebijakan transportasi harus tetap mempertimbangkan aspek sosial, ekonomi, serta kebutuhan masyarakat.
Smart city bukan berarti menggantikan manusia dengan mesin, tetapi menggunakan teknologi untuk membantu manusia menciptakan keputusan yang lebih baik.
Perjalanan Surabaya menuju kota pintar masih terus berkembang. Dengan fondasi seperti SITS, integrasi transportasi publik, dan layanan digital, Surabaya memiliki peluang besar untuk mengembangkan sistem transportasi berbasis AI.
Ke depan, teknologi dapat berkembang menuju konsep yang lebih maju seperti:
Dengan kombinasi Artificial Intelligence, Internet of Things (IoT), dan Big Data, Surabaya dapat membangun sistem transportasi yang tidak hanya memindahkan manusia dari satu tempat ke tempat lain, tetapi juga memahami kebutuhan masyarakatnya.
Referensi: