Indonesia kembali diingatkan pada besarnya risiko gempa bumi setelah gempa berkekuatan M7,7 mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada 15 Agustus 2026. BMKG menyatakan bahwa hingga Jumat, 21 Agustus 2026 pukul 05.00 WIB, tercatat 4.258 gempa susulan setelah gempa utama tersebut. Sebanyak 118 gempa susulan dirasakan oleh masyarakat dan 31 di antaranya memiliki magnitudo di atas M5,0. Aktivitas gempa susulan diperkirakan masih dapat berlangsung selama beberapa minggu.
Kondisi tersebut kembali memunculkan pertanyaan penting. Bisakah teknologi memberikan peringatan kepada masyarakat beberapa detik sebelum guncangan gempa yang kuat tiba?
Jawabannya adalah bisa. Teknologi tersebut dikenal sebagai Earthquake Early Warning System (EEWS). Namun, sistem ini tidak dapat memprediksi gempa sebelum terjadi. EEWS bekerja dengan mendeteksi gempa yang sudah dimulai, kemudian memanfaatkan perbedaan kecepatan gelombang seismik untuk memberikan peringatan sebelum gelombang guncangan yang lebih kuat mencapai lokasi tertentu.
Belajar dari Jepang
Jepang merupakan salah satu negara yang paling maju dalam penerapan Earthquake Early Warning (EEW). Japan Meteorological Agency (JMA) mengoperasikan sistem yang menggunakan jaringan sensor seismik untuk mendeteksi gelombang awal gempa dan mengirimkan peringatan kepada masyarakat maupun berbagai sistem yang membutuhkan respons cepat.
Konsepnya sederhana tetapi membutuhkan teknologi yang sangat cepat:
Gempa terjadi → sensor mendeteksi → sistem menganalisis → peringatan dikirim → masyarakat atau sistem otomatis bereaksi.
Beberapa detik yang diperoleh dapat dimanfaatkan untuk melakukan tindakan seperti berlindung, menghentikan proses industri, atau mengamankan infrastruktur tertentu.
Yang perlu digarisbawahi, EEW bukan alat untuk meramalkan gempa. Sistem ini hanya dapat bekerja setelah gempa mulai terjadi. Keunggulannya terletak pada kemampuan mendeteksi gempa dengan sangat cepat dan memanfaatkan jeda waktu sebelum gelombang guncangan kuat mencapai suatu lokasi.
Teknologi Peringatan Gempa di Indonesia
Indonesia tidak sedang memulai dari nol. BMKG telah mengembangkan Indonesia Earthquake Early Warning System (InaEEWS). Situs resmi InaEEWS menjelaskan bahwa sistem ini dirancang untuk mendeteksi gelombang seismik awal dan memberikan peringatan beberapa detik sebelum getaran utama yang berpotensi merusak mencapai lokasi pengguna. Saat ini, InaEEWS memanfaatkan lebih dari 200 sensor aktif dalam wilayah uji coba terbatas.
BMKG juga telah melakukan pengujian prototipe EEWS untuk mengetahui tingkat guncangan yang mungkin dirasakan di suatu wilayah serta memperkirakan waktu kedatangannya. Informasi tersebut nantinya dapat digunakan oleh pihak terdampak untuk mengambil langkah mitigasi lebih cepat.
Artinya, pertanyaannya bukan lagi apakah teknologi seperti Jepang mungkin diterapkan di Indonesia. Indonesia sudah mulai membangunnya. Tantangannya adalah bagaimana membuat sistem tersebut semakin luas, cepat, akurat, dan dapat diandalkan.
Apa Saja Teknologi yang Dimiliki BMKG?
Peringatan gempa BMKG sebenarnya terdiri dari beberapa teknologi yang saling melengkapi.
Sensor seismik digunakan untuk mendeteksi dan merekam aktivitas gempa. Data dari jaringan sensor tersebut dikirimkan ke pusat pengolahan untuk menentukan parameter gempa, seperti lokasi, waktu, kedalaman, dan magnitudo.
Jaringan sensor ini juga menjadi salah satu fondasi untuk pengembangan InaEEWS. BMKG menyebut investasi jaringan monitoring seismik yang sudah berjalan dapat dimanfaatkan untuk pengembangan sistem peringatan dini gempa nasional.
InaEEWS merupakan teknologi yang secara khusus ditujukan untuk memberikan peringatan dini terhadap guncangan gempa.
Sistem ini bekerja secara real-time. Ketika sensor mendeteksi gelombang awal, data diproses untuk memperkirakan parameter gempa dan potensi guncangan di lokasi lain. Jika sistem sudah terintegrasi secara luas, informasi tersebut dapat digunakan untuk memperingatkan manusia maupun mengaktifkan respons otomatis pada infrastruktur tertentu.
Berbeda dari InaEEWS, InaTEWS (Indonesia Tsunami Early Warning System) berfokus pada potensi tsunami.
Sistem ini menggabungkan berbagai sumber data, termasuk jaringan sensor seismik, GPS, buoy, dan tide gauge. Data tersebut digunakan untuk menganalisis apakah suatu gempa memiliki potensi tsunami dan kemudian menghasilkan informasi peringatan untuk masyarakat.
Teknologi ini menjadi sangat penting dalam konteks gempa di wilayah seperti Flores karena gempa bawah laut tertentu dapat berpotensi memicu tsunami.
BMKG juga menggunakan data sensor untuk menghasilkan informasi mengenai distribusi intensitas guncangan. Data tersebut dapat membantu memperkirakan wilayah yang mengalami guncangan lebih kuat sehingga informasi kebencanaan dapat disampaikan secara lebih spesifik.
Dengan kata lain, teknologi modern tidak hanya menjawab “di mana gempa terjadi?”, tetapi juga berusaha menjawab “wilayah mana yang kemungkinan mengalami dampak paling besar?”
Kalau Diterapkan Secara Luas, Apa yang Bisa Terjadi?
Bayangkan sebuah sistem peringatan gempa yang terhubung dengan berbagai fasilitas.
Ketika sensor mendeteksi gempa:
Sensor → pusat analisis → estimasi guncangan → peringatan → tindakan otomatis
Peringatan dapat dikirim ke smartphone, sekolah, rumah sakit, fasilitas industri, hingga sistem transportasi.
Pada kondisi tertentu, sistem otomatis bahkan dapat dirancang untuk melakukan tindakan seperti menghentikan proses produksi atau mengamankan sistem transportasi sebelum guncangan kuat tiba.
Konsep semacam ini sudah lama menjadi salah satu tujuan pengembangan EEWS di Indonesia. BMKG sebelumnya menjelaskan bahwa sistem peringatan dini gempa dapat dimanfaatkan tidak hanya untuk masyarakat, tetapi juga untuk mengamankan objek vital melalui respons instrumen.
Mengapa Indonesia Tidak Bisa Sekadar Meniru Jepang?
Indonesia memiliki tantangan yang berbeda. Wilayah Indonesia sangat luas dan memiliki kondisi tektonik yang kompleks. Selain itu, kemampuan infrastruktur, jaringan komunikasi, dan kesiapan setiap daerah tidak sama.
BMKG sendiri telah mengidentifikasi luas wilayah Indonesia, perbedaan kemampuan infrastruktur daerah, jaringan komunikasi, serta sinkronisasi waktu sebagai sejumlah tantangan dalam penerapan EEWS secara nasional.
Karena itu, teknologi saja tidak cukup.
Sistem peringatan yang hanya mampu mengirimkan notifikasi tidak akan banyak membantu jika masyarakat tidak memahami tindakan yang harus dilakukan setelah menerima peringatan.
Masa Depan Peringatan Gempa di Indonesia
Gempa Flores pada Agustus 2026 menunjukkan bahwa kebutuhan terhadap sistem peringatan dan mitigasi bencana di Indonesia bukan sesuatu yang abstrak. Teknologi seperti sensor seismik, InaEEWS, InaTEWS, analisis real-time, komunikasi digital, dan sistem otomatis dapat menjadi bagian penting dari upaya mengurangi risiko.
Indonesia juga sudah memiliki fondasi yang cukup kuat. Tantangan berikutnya adalah memperluas cakupan sensor, meningkatkan kecepatan dan akurasi analisis, memperkuat infrastruktur komunikasi, serta memastikan informasi peringatan benar-benar sampai kepada masyarakat.
Pada akhirnya, tujuan teknologi peringatan gempa bukanlah membuat manusia mampu menghentikan gempa. Tujuannya jauh lebih sederhana dan penting yaitu memberikan manusia beberapa detik tambahan untuk menyelamatkan diri.
Dan dalam situasi bencana, beberapa detik tersebut dapat menjadi sangat berarti.