Surabaya berhasil merealisasikan investasi sebesar Rp23,6 triliun sepanjang semester I 2026. Nilai tersebut sudah mencapai sekitar 53% dari target investasi tahunan sebesar Rp44,26 triliun. Menariknya, sebagian besar modal yang masuk berasal dari investor domestik.
Capaian ini menjadi sinyal positif bagi perekonomian Kota Pahlawan. Namun, keberhasilan investasi tidak cukup diukur dari besarnya nilai rupiah yang masuk. Pertanyaan yang lebih penting adalah bagaimana investasi tersebut menciptakan lapangan kerja, menggerakkan usaha lokal, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Berdasarkan data Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Surabaya, realisasi investasi semester I 2026 mencapai Rp23,608 triliun dari 68.840 proyek. Angka ini meningkat 6,06% dibandingkan periode yang sama pada 2025, ketika investasi tercatat sebesar Rp22,177 triliun.
Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) mendominasi dengan nilai Rp21,974 triliun dari 67.625 proyek. Sementara itu, Penanaman Modal Asing (PMA) mencapai Rp1,633 triliun dari 1.215 proyek.
Dominasi PMDN menunjukkan bahwa pelaku usaha domestik masih memiliki peran besar dalam aktivitas investasi Surabaya. Kondisi ini penting karena investasi dari dalam negeri dapat memperluas kegiatan usaha, mendorong ekspansi perusahaan, dan membuka peluang bagi bisnis pendukung di berbagai sektor.
Meski begitu, banyaknya proyek tidak otomatis berarti seluruh usaha memperoleh manfaat yang sama. Dampak investasi tetap bergantung pada jenis usaha, skala kegiatan, kebutuhan tenaga kerja, serta keterlibatan pemasok dan pelaku usaha lokal.
Investasi Surabaya tersebar di berbagai bidang usaha. Sektor usaha lainnya mencatat nilai terbesar, yakni Rp7,869 triliun dari 28.186 proyek. Perdagangan dan reparasi menyusul dengan Rp3,665 triliun dari 30.255 proyek.
Sementara itu, sektor transportasi, pergudangan, dan telekomunikasi mencatat investasi sebesar Rp3,219 triliun. Sektor jasa lainnya membukukan Rp3,116 triliun, sedangkan perumahan, kawasan industri, dan perkantoran mencapai Rp2,806 triliun.
Komposisi ini memperlihatkan bahwa aktivitas investasi tidak hanya berkaitan dengan pembangunan fasilitas baru. Perdagangan, distribusi, pergudangan, dan layanan bisnis juga menjadi bagian penting dari perputaran modal di kota.
Ketika perusahaan memperluas operasionalnya, kebutuhan terhadap transportasi, penyimpanan barang, jasa profesional, hingga pemasok lokal berpotensi meningkat. Peluang tersebut dapat dimanfaatkan oleh pelaku usaha kecil dan menengah apabila mereka mampu memenuhi kebutuhan, kualitas, dan standar yang diminta perusahaan.
Salah satu manfaat yang diharapkan dari investasi adalah terciptanya kesempatan kerja. Perusahaan yang membuka cabang, memperluas fasilitas, atau meningkatkan kapasitas usahanya dapat membutuhkan tambahan pekerja, baik untuk kegiatan operasional maupun layanan pendukung.
Pemerintah Kota Surabaya juga menekankan pentingnya memastikan investasi memberikan manfaat kepada masyarakat setempat. Sebab, pergerakan ekonomi tidak berhenti pada perusahaan penerima modal, tetapi dapat menjalar ke pekerja, pemasok, pedagang makanan, penyedia transportasi, dan UMKM di sekitarnya.
Namun, dampak investasi terhadap tenaga kerja tidak selalu sama. Proyek yang membutuhkan banyak pekerja dapat menciptakan kesempatan kerja langsung dalam jumlah besar, sedangkan usaha berbasis teknologi atau padat modal mungkin membutuhkan lebih sedikit pekerja tetapi memiliki kebutuhan keahlian khusus.
Karena itu, indikator keberhasilan investasi sebaiknya tidak berhenti pada nilai realisasi. Jumlah pekerja yang terserap, kualitas pekerjaan, tingkat upah, dan proporsi tenaga kerja lokal juga penting untuk melihat seberapa luas manfaat ekonomi yang tercipta.
Setelah melewati separuh target tahunan, tantangan Surabaya berikutnya adalah mempertahankan momentum investasi hingga akhir 2026. Pada saat yang sama, pemerintah daerah perlu memastikan kemudahan perizinan berjalan beriringan dengan kepastian hukum dan transparansi pelayanan.
Pemanfaatan teknologi dalam layanan investasi, termasuk pemantauan perizinan dan pendampingan melalui Klinik Investasi, dapat membantu pelaku usaha memahami proses administrasi serta memperkirakan kebutuhan dan biaya usaha. Kepastian proses menjadi salah satu faktor yang dipertimbangkan investor ketika menentukan lokasi penanaman modal.
Di sisi lain, manfaat investasi perlu diperluas melalui hubungan bisnis antara perusahaan besar dan pelaku usaha lokal. UMKM dapat memperoleh peluang sebagai pemasok bahan baku, penyedia konsumsi pekerja, mitra distribusi, maupun penyedia jasa lainnya.
Jika hubungan tersebut terbentuk, dampak investasi dapat menjangkau lebih banyak pihak. Modal yang masuk bukan hanya memperbesar aktivitas perusahaan, tetapi juga menciptakan permintaan baru bagi usaha di sekitarnya.
Realisasi investasi Rp23,608 triliun merupakan capaian positif bagi Surabaya. Dengan pencapaian sekitar 53% dari target tahunan, kota ini memiliki modal untuk melanjutkan pertumbuhan investasi pada semester II 2026.
Meski demikian, keberhasilan jangka panjang tidak hanya ditentukan oleh apakah target Rp44,26 triliun tercapai. Hal yang tidak kalah penting adalah apakah investasi tersebut mampu menciptakan pekerjaan yang layak, memperkuat daya saing perusahaan lokal, dan meningkatkan aktivitas ekonomi masyarakat.
Pada akhirnya, investasi yang berkualitas bukan sekadar modal yang masuk ke suatu daerah, melainkan modal yang menghasilkan kegiatan ekonomi berkelanjutan dan manfaat yang dapat dirasakan lebih luas oleh warganya.