Bayangkan tidak perlu lagi panik mencari tabung gas ketika sedang memasak. Tidak perlu menyimpan beberapa tabung cadangan di rumah. Cukup membuka kompor, lalu gas mengalir melalui jaringan pipa.
Model seperti inilah yang terus diperluas PT Perusahaan Gas Negara (PGN) di Surabaya.
PGN menargetkan pembangunan jaringan gas bumi baru yang dapat melayani sekitar 59.990 sambungan rumah di Surabaya dan Gresik pada periode 2025–2026. Untuk Surabaya, pengembangan pada 2026 menyasar Surabaya Timur, Tengah, Barat, serta sebagian wilayah Utara.
Bagi warga, ini bukan hanya soal mengganti sumber energi. Ada perubahan cara rumah tangga memenuhi dan mengelola kebutuhan energi sehari-hari.
Selama ini, penggunaan LPG membuat rumah tangga harus membeli dan mengganti tabung ketika persediaan habis.
Jaringan gas bumi menawarkan mekanisme yang berbeda. Gas disalurkan langsung melalui pipa menuju rumah pelanggan sehingga masyarakat tidak perlu melakukan pembelian tabung secara berkala.
PGN menyebut gas bumi melalui layanan GasKita ditujukan untuk rumah tangga serta usaha kecil di wilayah operasionalnya. Hingga Agustus 2026, PGN mencatat sekitar 36.000 formulir minat berlangganan dari masyarakat untuk pemasangan jaringan gas bumi.
Angka tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan terhadap energi yang praktis tidak hanya datang dari perusahaan, tetapi juga dari rumah tangga.
Bagi keluarga, biaya energi merupakan salah satu pengeluaran rutin.
Karena itu, perubahan sistem energi dapat memengaruhi cara rumah tangga mengatur pengeluaran bulanan. Ketika pasokan tersedia melalui jaringan, masyarakat tidak lagi perlu memikirkan kapan harus membeli atau mengganti tabung.
Sejumlah pengguna jargas di Surabaya yang dikutip PGN juga menyebut kepraktisan dan tidak perlu khawatir kehabisan gas sebagai salah satu manfaat yang dirasakan.
Dari sudut pandang keuangan rumah tangga, kemudahan tersebut dapat membuat pengeluaran energi menjadi lebih mudah diprediksi dan dikelola.
Dampak jaringan gas juga dapat menjangkau sektor usaha.
PGN mencatat pelanggan gas bumi di Surabaya dan Gresik mencapai sekitar 61.000 pelanggan, yang mencakup rumah tangga, komersial, dan industri.
Bagi usaha seperti restoran, hotel, maupun UMKM kuliner, energi merupakan bagian dari biaya operasional. Ketersediaan pasokan yang lebih praktis dapat membantu kegiatan produksi berjalan tanpa terlalu bergantung pada proses penggantian tabung.
Artinya, pembangunan jargas bukan hanya proyek infrastruktur energi. Ada kaitannya dengan efisiensi operasional bisnis.
Ketika energi lebih mudah diperoleh dan pasokannya tersedia melalui jaringan, pelaku usaha dapat lebih fokus pada aktivitas produksinya.
Perluasan jargas juga menunjukkan bahwa infrastruktur energi semakin diarahkan mendekati konsumen.
PGN menyebut pembangunan tahun ini menyasar Surabaya Timur, Surabaya Tengah, Surabaya Barat, serta sebagian Surabaya Utara. Pembangunan dilakukan dengan koordinasi bersama Pemerintah Kota Surabaya dan pemangku kepentingan terkait.
Namun, membangun jaringan pipa ke permukiman tentu bukan perkara sederhana.
Pekerjaan pembangunan dapat melibatkan penggalian di lingkungan warga. PGN sebelumnya menyampaikan bahwa proses rekondisi dan perbaikan jalan setelah pekerjaan menjadi bagian dari tanggung jawab perusahaan.
Karena itu, keberhasilan ekspansi jargas tidak hanya bergantung pada jumlah sambungan yang berhasil dibangun, tetapi juga bagaimana pembangunan tersebut diterima dan dipahami masyarakat.
Perluasan jaringan gas memperlihatkan bahwa kebutuhan energi masyarakat perlahan bergerak dari sistem yang berbasis produk fisik menuju sistem berbasis jaringan.
LPG membutuhkan tabung yang harus tersedia secara fisik dan didistribusikan ke konsumen. Sementara jargas membutuhkan infrastruktur pipa yang dibangun terlebih dahulu, tetapi setelah tersedia, gas dapat disalurkan langsung ke pelanggan.
Perbedaannya mirip dengan perubahan dari membeli air dalam kemasan menuju menggunakan jaringan air perpipaan: investasi infrastrukturnya berada di depan, tetapi manfaatnya digunakan berulang kali.
Karena itu, semakin luas jaringan yang terbangun dan semakin banyak pelanggan yang terhubung, semakin besar pula ekosistem energi berbasis jaringan yang terbentuk.
PGN tidak hanya memperluas jaringan, tetapi juga melakukan edukasi melalui City Gas Tour 2026.
Edukasi tersebut mencakup pemanfaatan gas bumi, keamanan dan keselamatan penggunaan, hingga ajakan menjaga infrastruktur gas di lingkungan masyarakat.
Langkah ini penting karena perubahan infrastruktur juga membutuhkan perubahan kebiasaan.
Masyarakat perlu memahami cara menggunakan gas dengan aman, mengetahui mekanisme layanan, serta ikut menjaga jaringan yang berada di lingkungan mereka.
Dengan begitu, jargas tidak berhenti sebagai proyek pembangunan pipa, tetapi benar-benar menjadi bagian dari sistem energi perkotaan.
Target hampir 60 ribu sambungan baru menunjukkan bahwa perluasan jaringan gas bukan proyek kecil.
Di satu sisi, rumah tangga mendapatkan alternatif energi yang lebih praktis. Di sisi lain, sektor komersial dan industri memiliki tambahan pilihan dalam memenuhi kebutuhan energinya.
Lebih jauh lagi, pembangunan jargas memperlihatkan bagaimana sebuah kota dapat mengubah cara masyarakat mengakses energi: dari membeli dan membawa bahan bakar menjadi menerima energi melalui jaringan.
Jika perluasan ini berjalan sesuai target, dampaknya bukan hanya terlihat dari bertambahnya jumlah pelanggan PGN. Perubahan juga dapat terasa dalam cara rumah tangga mengatur pengeluaran dan bagaimana bisnis mengelola biaya operasional.
Jaringan gas mungkin terlihat sederhana karena hanya berupa pipa yang mengalirkan energi ke rumah. Namun di baliknya ada perubahan besar dalam infrastruktur, pola konsumsi, dan pengelolaan biaya energi masyarakat Surabaya. Ketika energi bisa mengalir langsung ke rumah, cara masyarakat mengatur kebutuhan sehari-hari pun ikut berubah.