Loading
Logo
Beranda Tentang

Apakah Tempat Sampah Pintar Bisa Menyelesaikan Masalah Sampah Surabaya?

Teknologi
14 Aug 2026
22 dilihat
Apakah Tempat Sampah Pintar Bisa Menyelesaikan Masalah Sampah Surabaya?

Surabaya dikenal sebagai salah satu kota di Indonesia yang aktif mengembangkan inovasi pengelolaan lingkungan. Namun, aktivitas perkotaan yang tinggi juga menghasilkan persoalan sampah yang tidak sederhana. Surabaya menghasilkan sekitar 1.800 ton sampah per hari, dengan pengelolaan yang melibatkan rumah tangga, TPS, TPS 3R, hingga TPA Benowo.

Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan: bisakah teknologi membuat pengelolaan sampah menjadi lebih pintar? Salah satu konsep yang menarik adalah smart bin atau tempat sampah pintar. Dengan sensor dan koneksi Internet of Things (IoT), tempat sampah dapat dirancang untuk memberikan informasi mengenai kapasitasnya secara real-time.

Namun, apakah teknologi tersebut benar-benar dapat menyelesaikan masalah sampah Surabaya?

Masalah Sampah Bukan Sekadar Tempat Penuh

Masalah sampah perkotaan bukan hanya mengenai tempat sampah yang penuh. Ada rangkaian proses panjang yang harus dikelola, mulai dari pengumpulan sampah dari rumah, pengangkutan menuju TPS, pemilahan dan pengolahan, hingga pengiriman ke fasilitas pengolahan atau TPA.

Surabaya sendiri masih melakukan penataan terhadap sistem pengangkutan sampah. Pada April 2026, Pemerintah Kota Surabaya mengatur kembali pola dan jadwal pengangkutan agar proses dari TPS menuju TPA berjalan lebih teratur.

Kondisi ini menunjukkan bahwa informasi mengenai jumlah dan kondisi sampah menjadi penting. Di sinilah konsep smart bin menarik untuk dibahas.

Bagaimana Tempat Sampah Pintar Bekerja?

Smart bin menggabungkan tempat sampah dengan sensor dan sistem digital. Sensor dapat mendeteksi tingkat kepenuhan, kemudian mengirimkan informasi tersebut ke sistem monitoring melalui jaringan internet.

Sederhananya:

Tempat sampah → sensor → data kapasitas → sistem monitoring → petugas → pengangkutan

Jika kapasitas sudah mendekati batas, sistem dapat memberikan informasi kepada petugas. Sebaliknya, tempat sampah yang masih kosong tidak harus menjadi prioritas.

Konsep ini berpotensi mengubah pengelolaan dari sistem berdasarkan jadwal tetap menjadi sistem yang lebih responsif terhadap kondisi lapangan.

Namun, penting untuk diperjelas bahwa smart bin berbasis sensor belum dapat diklaim telah diterapkan secara luas di seluruh Surabaya. Karena itu, teknologi ini lebih tepat dibahas sebagai salah satu kemungkinan pengembangan pengelolaan sampah.

Surabaya Sudah Menggunakan Teknologi

Meskipun smart bin belum diterapkan secara luas, Surabaya sebenarnya telah mengembangkan berbagai inovasi teknologi dalam pengelolaan sampah.

Salah satunya adalah Smart Waste Sorting, gagasan yang dikembangkan anak muda Surabaya untuk menghubungkan masyarakat, pemerintah, industri, dan pelaku usaha dalam pengelolaan sampah. Surabaya juga memiliki aplikasi Si Basam untuk mendukung pengelolaan sampah.

Selain itu, BRIDA Kota Surabaya mencantumkan Smart Waste Management TPS 3R sebagai inovasi bidang lingkungan. Hal ini menunjukkan bahwa pemanfaatan teknologi dalam pengelolaan sampah Surabaya sudah berkembang lebih jauh daripada sekadar tempat sampah pintar.

Data Bisa Membuat Pengangkutan Lebih Efisien

Nilai terbesar teknologi bukan hanya otomatisasi, tetapi data.

Pada April 2026, Pemerintah Kota Surabaya meminta agar jumlah tongbin di TPS dihitung lebih presisi. Data kapasitas dari sensor dapat membantu mengetahui lokasi yang paling cepat menghasilkan sampah dan membutuhkan penanganan.

Informasi tersebut berpotensi digunakan untuk menentukan prioritas pengangkutan, memperkirakan kebutuhan armada, mengoptimalkan rute kendaraan, serta mengetahui pola timbulan sampah.

Dengan demikian, smart bin bukan sekadar tempat sampah yang bisa “memberi tahu ketika penuh”. Nilai sebenarnya muncul ketika data tersebut terhubung dengan sistem pengelolaan yang lebih besar.

Teknologi Tidak Bisa Bekerja Sendirian

Teknologi tetap bukan solusi tunggal. Surabaya juga mengembangkan pengelolaan sampah dari tingkat masyarakat melalui sekitar 600 bank sampah dan rumah kompos.

Pada Januari 2026, Pemkot Surabaya melaporkan bahwa 27 rumah kompos mampu menghemat biaya pengangkutan sekitar Rp6,73 miliar per tahun. Sementara itu, sampah anorganik juga dikelola melalui 12 TPS 3R.

Artinya, solusi terbaik membutuhkan kombinasi antara pemilahan dari rumah, bank sampah, TPS 3R, pengangkutan, pengolahan, dan teknologi data.

Jadi, Apakah Smart Bin Bisa Menyelesaikan Masalah Sampah Surabaya?

Jawabannya adalah tidak serta merta.

Smart bin dapat membantu menjawab pertanyaan kapan dan di mana sampah perlu ditangani. Sensor dan IoT dapat menyediakan data untuk membantu petugas menentukan prioritas dan membuat pengangkutan lebih responsif.

Namun, persoalan sampah Surabaya jauh lebih besar daripada tempat sampah yang penuh. Karena itu, masa depan pengelolaan sampah bukan sekadar membuat tempat sampah menjadi pintar, tetapi membuat seluruh sistem pengelolaan sampah menjadi lebih pintar.

Ketika sensor, aplikasi, data real-time, TPS 3R, bank sampah, rumah kompos, dan fasilitas pengolahan dapat terhubung dalam satu ekosistem, teknologi tidak hanya menjadi alat, tetapi dapat menjadi bagian dari solusi pengelolaan lingkungan perkotaan yang lebih efisien dan terukur.

Referensi

Ceritra Bot
Online