Loading
Logo
Beranda Tentang

Air Mengalir, Pendapatan Hilang: Seberapa Besar Kebocoran Keuangan PAM Surya Sembada Surabaya?

Finansial
03 Sep 2026
10 dilihat
Air Mengalir, Pendapatan Hilang: Seberapa Besar Kebocoran Keuangan PAM Surya Sembada Surabaya?

Air memang tidak terlihat seperti aset yang bisa “hilang” begitu saja. Namun, ketika air yang sudah diproduksi tidak tercatat sebagai penjualan, yang hilang bukan hanya air—melainkan juga potensi pendapatan.

Dalam pembahasan Perubahan Anggaran Keuangan (PAK) 2026, tingkat kehilangan air atau Non-Revenue Water (NRW) PAM Surya Sembada Surabaya kembali menjadi sorotan. Angkanya disebut mencapai sekitar 36% per tahun, yang jika dikonversikan ke nilai ekonomi berpotensi membuat perusahaan kehilangan pendapatan sekitar Rp400 miliar setiap tahun.

Angka tersebut menunjukkan bahwa efisiensi operasional dan kesehatan keuangan perusahaan daerah sebenarnya memiliki hubungan yang sangat erat.

Bukan Sekadar Pipa Bocor

Istilah Non-Revenue Water tidak selalu berarti air yang keluar dari pipa yang pecah.

Kehilangan air dapat berasal dari kebocoran jaringan, pencurian, hingga air yang sudah digunakan tetapi tidak tercatat secara akurat karena persoalan meter atau sistem pencatatan.

Dari perspektif bisnis, semuanya memiliki konsekuensi yang sama: perusahaan sudah mengeluarkan biaya untuk memproduksi dan mendistribusikan air, tetapi tidak seluruhnya berubah menjadi pendapatan.

Listrik untuk pompa tetap dibayar. Biaya pengolahan air tetap dikeluarkan. Infrastruktur tetap harus dirawat.

Tetapi sebagian hasil produksinya tidak menghasilkan penerimaan.

Inilah mengapa kebocoran air pada akhirnya juga menjadi persoalan manajemen keuangan.

Rp400 Miliar Bukan Angka Kecil

Potensi kehilangan sekitar Rp400 miliar per tahun menunjukkan besarnya nilai yang dapat diperoleh apabila tingkat kehilangan air berhasil ditekan.

Dalam pembahasan DPRD Surabaya, bahkan muncul target agar tingkat kehilangan air dapat ditekan hingga sekitar 15%. Angka tersebut disebut sebagai salah satu ukuran penting untuk menilai keberhasilan jajaran direksi baru.

Jika efisiensi meningkat, manfaatnya tidak hanya berupa tambahan pendapatan perusahaan.

PAM Surya Sembada dapat memiliki ruang yang lebih besar untuk memperkuat pemeliharaan jaringan, meningkatkan kualitas pelayanan, melakukan investasi infrastruktur, dan pada akhirnya mempertahankan kontribusinya terhadap pendapatan daerah.

Dengan kata lain, mengurangi kebocoran dapat menjadi bentuk peningkatan pendapatan tanpa harus semata-mata menaikkan tarif pelanggan.

Teknologi Bisa Mengubah Cara Mencari Kebocoran

Persoalan jaringan air bersih tentu tidak bisa diselesaikan hanya dengan menunggu laporan pipa bocor dari masyarakat.

Pada April 2026, PAM Surya Sembada menggandeng perusahaan teknologi asal India untuk menggunakan analisis hidrolika dan analisis data billing dalam mendeteksi potensi kebocoran maupun gangguan meter. Teknologi tersebut diuji melalui pilot project di DMA Babatan Mukti dan DMA Pondok Maritim.

Pendekatan ini menarik karena perusahaan tidak hanya memperbaiki kerusakan setelah terjadi, tetapi berusaha menemukan anomali berdasarkan data.

Semakin cepat titik kehilangan ditemukan, semakin kecil pula potensi air dan pendapatan yang terbuang.

Bagi perusahaan dengan jaringan distribusi yang sangat luas, kemampuan membaca data menjadi bagian penting dari efisiensi keuangan.

Dari Air yang Hilang Menjadi Nilai yang Diselamatkan

Bayangkan jika sebagian dari potensi pendapatan yang hilang dapat diselamatkan.

Dana tersebut pada prinsipnya dapat kembali mendukung operasional dan investasi perusahaan. Artinya, upaya menekan NRW bukan hanya proyek teknis, tetapi juga strategi untuk memperbaiki produktivitas aset.

Konsepnya sederhana: jangan hanya mencari tambahan pendapatan dari pelanggan baru, tetapi pastikan pendapatan dari produksi yang sudah ada tidak ikut hilang.

Bagi perusahaan daerah, pendekatan ini semakin penting karena kinerja tidak hanya dilihat dari pelayanan publik, tetapi juga dari kemampuan mengelola sumber daya secara efisien dan mempertanggungjawabkan kinerjanya.

Tantangannya: Menjadikan Efisiensi sebagai Ukuran Kinerja

Direksi baru PAM Surya Sembada periode 2026–2029 telah menjadikan penurunan NRW sebagai salah satu fokus kerja. Dalam pertemuan dengan Komisi B DPRD Surabaya pada Agustus 2026, jajaran direksi menyampaikan target untuk menekan kebocoran sekaligus meningkatkan kepuasan pelanggan.

Ke depan, keberhasilan tersebut sebaiknya tidak hanya diukur dari berapa kilometer pipa yang diperbaiki.

Ukuran yang lebih penting adalah: berapa banyak air yang berhasil diselamatkan, berapa biaya yang dapat dihemat, dan berapa potensi pendapatan yang berhasil dikembalikan menjadi penerimaan perusahaan.

Dengan indikator seperti itu, persoalan kebocoran dapat dilihat secara lebih utuh—dari persoalan teknis menjadi bagian dari strategi keuangan dan pengelolaan aset.

Air Tidak Hilang Sendiri, Ada Nilai Ekonomi di Baliknya

Kebocoran 36% menunjukkan bahwa masih terdapat ruang besar untuk meningkatkan efisiensi PAM Surya Sembada.

Tantangannya bukan sekadar menemukan pipa yang bocor, tetapi membangun sistem yang mampu mendeteksi kehilangan lebih cepat, memperbaiki pencatatan, mencegah pencurian, dan memastikan setiap sumber daya yang diproduksi memberikan nilai ekonomi secara optimal.

Sebab, dalam bisnis berbasis layanan publik, efisiensi juga merupakan sumber pendapatan.

Ketika air yang sebelumnya hilang dapat kembali tercatat dan menghasilkan penerimaan, yang diselamatkan bukan hanya air, tetapi juga potensi keuangan perusahaan dan daerah.

Bagi perusahaan yang mengelola aset dan layanan publik, efisiensi seharusnya dipandang sebagai bagian dari strategi keuangan. Penggunaan data, digitalisasi pencatatan, pemantauan aset, dan evaluasi kinerja dapat membantu perusahaan menemukan kebocoran sebelum berubah menjadi kerugian yang lebih besar.

Ceritra Bot
Online