Apakah Tempat Sampah Pintar Bisa Menyelesaikan Masalah Sampah Surabaya?
Surabaya dikenal sebagai salah satu kota di Indonesia yang cukup aktif mengembangkan inovasi dalam pengelolaan lingkungan. Namun, besarnya aktivitas perkotaan juga menghasilkan persoalan yang tidak sederhana. Surabaya menghasilkan sekitar 1.800 ton sampah per hari, sementara pengelolaannya melibatkan berbagai tahapan mulai dari rumah tangga, TPS, TPS 3R, hingga TPA Benowo.
Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan: bisakah teknologi membuat pengelolaan sampah menjadi lebih pintar? Salah satu konsep yang menarik adalah smart bin atau tempat sampah pintar. Dengan sensor dan koneksi Internet of Things (IoT), tempat sampah secara teori dapat memberikan informasi mengenai kapasitasnya secara real-time.
Namun, apakah teknologi tersebut benar-benar dapat menyelesaikan masalah sampah Surabaya?
Masalah Sampah Bukan Sekadar Tempat Penuh
Ketika berbicara mengenai sampah perkotaan, masalahnya bukan hanya tempat sampah yang penuh. Ada rangkaian proses panjang yang harus dikelola.
Sampah harus dikumpulkan dari rumah dan kawasan permukiman, dibawa menuju TPS, dipilah atau diolah, kemudian sebagian dikirim ke fasilitas pengolahan atau TPA. Jika salah satu proses mengalami gangguan, proses berikutnya ikut terdampak.
Surabaya sendiri masih melakukan penataan terhadap sistem pengangkutan sampah. Pada April 2026, Pemerintah Kota Surabaya mengatur kembali pola dan jadwal pengangkutan agar pengiriman sampah dari TPS ke TPA dapat berjalan lebih lancar. Jadwal pengiriman dari gerobak ke TPS juga disesuaikan dengan jadwal pengambilan sampah dari TPS ke TPA.
Artinya, informasi mengenai kondisi sampah menjadi sesuatu yang penting. Di sinilah konsep tempat sampah pintar mulai menarik untuk dibicarakan.
Bagaimana Tempat Sampah Pintar Bekerja?
Smart bin pada dasarnya menggabungkan tempat sampah dengan teknologi sensor dan sistem digital. Sensor dapat digunakan untuk mendeteksi tingkat kepenuhan tempat sampah. Data tersebut kemudian dapat dikirimkan ke sistem monitoring melalui jaringan internet.
Bayangkan sebuah sistem sederhana:
Tempat sampah → sensor → data kapasitas → sistem monitoring → petugas → pengangkutan
Jika sebuah tempat sampah sudah mendekati kapasitas maksimum, sistem dapat memberikan informasi kepada petugas. Sebaliknya, tempat sampah yang masih kosong tidak harus menjadi prioritas pengangkutan.
Konsep seperti ini berpotensi mengubah pengelolaan sampah dari sistem yang hanya berdasarkan jadwal tetap menjadi sistem yang lebih responsif terhadap kondisi lapangan.
Namun, perlu diperjelas bahwa smart bin dengan sensor kapasitas bukan berarti teknologi yang saat ini sudah diterapkan secara luas di seluruh tempat sampah Surabaya. Karena itu, konsep ini lebih tepat dilihat sebagai salah satu kemungkinan pengembangan teknologi pengelolaan sampah, bukan sebagai solusi yang sudah diterapkan secara menyeluruh.
Surabaya Sudah Menggunakan Teknologi untuk Mengelola Sampah
Meski penggunaan smart bin secara luas belum dapat dijadikan klaim, Surabaya sebenarnya sudah memiliki berbagai inovasi berbasis teknologi dalam pengelolaan sampah.
Salah satunya adalah Smart Waste Sorting, sebuah gagasan yang dikembangkan anak muda Surabaya. Aplikasi tersebut dirancang sebagai wadah kolaborasi yang menghubungkan masyarakat, pemerintah, industri, dan pelaku usaha. Pemerintah Kota Surabaya juga telah memiliki aplikasi Si Basam untuk pengelolaan sampah.
Di sisi lain, Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kota Surabaya juga mencantumkan Smart Waste Management TPS 3R sebagai salah satu inovasi dalam bidang lingkungan. Sistem tersebut diarahkan untuk mendukung pengelolaan sampah perkotaan secara lebih cerdas dan terintegrasi.
Ini menunjukkan bahwa pembicaraan mengenai teknologi pengelolaan sampah di Surabaya sebenarnya sudah lebih luas daripada sekadar tempat sampah pintar.
Data Bisa Membuat Pengangkutan Lebih Efisien
Salah satu manfaat terbesar teknologi bukan hanya otomatisasi, melainkan data.
Pemerintah Kota Surabaya pada April 2026 juga meminta agar jumlah tongbin di TPS dihitung secara lebih presisi. Hal ini menunjukkan bahwa kapasitas penampungan dan kebutuhan pengangkutan perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing lokasi.
Dalam konteks tersebut, sensor pada tempat sampah dapat menjadi salah satu sumber data. Jika data kapasitas dikumpulkan dari berbagai titik, pemerintah dapat memperoleh gambaran mengenai lokasi yang paling cepat menghasilkan sampah.
Data tersebut kemudian berpotensi digunakan untuk:
menentukan prioritas pengangkutan;
memperkirakan kebutuhan armada;
mengoptimalkan rute kendaraan;
mengetahui pola timbulan sampah;
mengurangi perjalanan yang tidak diperlukan.
Dengan kata lain, smart bin bukan hanya tentang tempat sampah yang “bisa memberi tahu kalau penuh”. Nilai sebenarnya muncul ketika data tersebut terhubung dengan sistem pengelolaan yang lebih besar.
Teknologi Tidak Bisa Bekerja Sendirian
Meski terdengar menjanjikan, teknologi bukan solusi tunggal.
Surabaya sendiri telah mengembangkan pendekatan pengelolaan sampah dari tingkat masyarakat. Pada 2025, Pemkot Surabaya menyebut telah mengembangkan sekitar 600 bank sampah, sementara pengelolaan organik juga dilakukan melalui rumah kompos.
Pada Januari 2026, Pemkot Surabaya melaporkan bahwa 27 rumah kompos mampu menghemat biaya pengangkutan sampah hingga sekitar Rp6,73 miliar per tahun. Ini menunjukkan bahwa solusi pengelolaan sampah tidak selalu membutuhkan teknologi yang sangat kompleks. Pengolahan dari sumber juga dapat memberikan dampak nyata terhadap efisiensi.
Bahkan, sampah anorganik di Surabaya juga dikelola melalui 12 TPS 3R, sementara 27 rumah kompos memiliki kapasitas pengolahan sekitar 95,17 ton per hari. Pemkot menyebut kombinasi fasilitas tersebut dapat membantu menekan volume sampah yang masuk ke TPA.
Artinya, teknologi akan lebih efektif apabila menjadi bagian dari sistem yang mencakup pemilahan dari rumah, bank sampah, TPS 3R, pengangkutan, pengolahan, dan pengelolaan data.
Jadi, Apakah Smart Bin Bisa Menyelesaikan Masalah Sampah Surabaya?
Jawabannya adalah tidak sendirian.
Tempat sampah pintar dapat membantu menjawab salah satu persoalan penting dalam pengelolaan sampah: kapan dan di mana sampah perlu ditangani. Sensor dan IoT dapat menyediakan data yang membantu petugas menentukan prioritas dan membuat pengangkutan lebih responsif.
Tetapi masalah sampah Surabaya jauh lebih besar daripada persoalan tempat sampah penuh. Dengan timbulan sekitar 1.800 ton per hari, pengelolaan sampah membutuhkan sistem yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.
Karena itu, masa depan pengelolaan sampah bukan sekadar membuat tempat sampah menjadi pintar. Yang lebih penting adalah membuat seluruh sistem pengelolaan sampah menjadi pintar.
Tempat sampah dengan sensor, aplikasi, data real-time, TPS 3R, bank sampah, rumah kompos, hingga fasilitas pengolahan sampah dapat saling terhubung dalam satu ekosistem. Ketika teknologi digunakan untuk membantu manusia mengambil keputusan yang lebih cepat dan tepat, konsep smart city mulai memiliki dampak yang benar-benar terasa bagi masyarakat.
Read More